Shortstory : Iqbal’s Warning

Image

“Jangan berharap lebih, seharusnya kamu tau berhadapan sama siapa. Selamat malam Vienna Ilisha,”

            Perkataan Neeraf malam itu masih terngiang jelas dalam ingatan Vienna, di malam Graduation sekolahnya-dimana seharusnya semua anak SMA merasakan bahagia,tapi ia harus menerima penolakan mentah-mentah dari cowok yang sudah lama di taksirnya. Seharusnya ia mendengar perkataan Iqbal, bukannya marah dan menampar sahabatnya itu. Malam itu benar-benar buruk untuk Vienna.

                                                                                    ***

            “Iqbal, gue mau nyatain perasaan gue ke Neeraf pas malam Graduation kita! Lo mau gak bantuin gue?” ujar Vienna. Iqbal yang lebih asyik menyusun kartu Bridge, tak begitu mendengan ocehan sahabatnya, Vienna. Bentuk pyramid akan sempurna jika 1 kartu terakhir ditangannya berhasil di letakkannya ditumpukan kartu Bridge didepannya. Tapi, sebelum itu terwujud, susunan kartu itu hancur dibuat Vienna lantaran kesal karena tak didengarkan. Di masa ‘galau’ seperti ini ia butuh orang yang mendengarkan isi hatinya, bukan orang yang lebih asyik menyusun kartu dan mendengarkannya dengan acuh-tak acuh. “Na! Lo tega banget sih ! Itu pyramid tinggal 1 kartu lagi!” teriak Iqbal frustasi. Vienna yang sudah tau apa yang akan terjadi, memeletkan lidahnya kearah Iqbal dan langsung berlari menuju pagar dan kabur dari rumah Iqbal. “Viennaaa, lo kebangetan banget sih jadi cewek!” erangnya. “Biarin, siapa suruh lo gak nanggepin gue!”

            Iqbal  sebenarnya bukan tidak mau menangapi ataupun menolong sahabatnya itu, ia hanya terlalu shock. Apa benar Vienna serius dengan niatnya? Taukah dia sebejat apa sosok Neeraf? Ia sudah berulang kali mencegah Vienna untuk tidak jatuh lebih dalam akan perasaannya pada Neeraf, tapi Vienna selalu tak percaya. Ia selalu mempunyai seribu alasan atas tindakan apapun yang dilakukan Neeraf, mau itu hal baik atau buruk. Apakah rasa cinta bisa membutakan sampai segitunya? Iqbal sendiri ragu apakah Vienna memang cinta atau hanya sekedar obsesi pada Neeraf.

            Hal ini tak boleh dibiarkan, sahabatnya harus diselamatkan dari bajingan macam Neeraf. Tapi dengan cara apa?

                                                                        ***

            To : Vieneek

Berangkat jam berapa? Mau bareng gue? Ayah ngebolehin gue bawa mobil!

SEND

            Setelan jas hitam sempurna melekat di tubuh tinggi Iqbal, dipadukan mini tie hitam malam ini dia tampan dan sudah siap. Siap dalam berbagai hal, termasuk mencegah Vienna jadian dengan Neeraf. Apapun caranya akan ditempuh Iqbal, terlalu sakit membayangkan wajah Vienna yang sedih nantinya.

            Mobil sedan hitam milik ayah Iqbal sudah terparkir rapi di depan rumah Vienna. Sembari menunggu Vienna, Iqbal mengecek penampilannya sekali lagi. “Iqbeeeel, cepetan! Ntar acaranya keburu mulai!” teriak Vienna. Iqbal yang masih berkaca, langsung menoleh ke sumber suara nyaring itu, dan tampaklah seorang gadis cantik dengan balutan gaun putih selutut merek Louis Vuiton pemberian ibunya, “ternyata niat betul Vienna pake baju itu di graduation,” batin Iqbal. Ia tampak cantik dan mempesona, dan Iqbal sempat bengong melihatVienna begitu cantik malam ini. “Kok bengong? Ayo cepetan, Baal!” rengeknya. Iqbal berlari kearah Vienna dan membukakan pintu untuknya, Vienna heran tapi it’s okay, sometime in your life you be service like princess, right?

                                                                                    ***

            “Vien, lo seriusan mau nyatain ke Neeraf tentang perasaan lo?” ujar Iqbal membuka pembicaraannya dengan Vienna. Sedari tadi bibirnya sudah tidak tahan untuk melarang aksi nekat Vienna malam ini, “iya, gue yakin seratus persen. Lagian Neeraf udah sering nunjukin kalo dia udah punya rasa ke gue. Mulai dari sering nanyakin tugas ke gue, ngajak gue taruhan bola, terus kemaren dia ngajakin makan bareng dikantin walaupun bareng geng basketnya,” tutur Vienna panjang lebar. Iqbal hanya mampu menarik nafas panjang, otaknya benar-benar berputar keras untuk menemukan kalimat yang akan menghentikan ini semua sebelum terlambat. “Cuman gara-gara hal kecil gitu, lo bisa yakin dia punya perasaan sama lo? Hello, Vienna kamu ini polos apa emang gak ngerti sih ? Neeraf itu gak sebaik yang lo kira! Dia pasti gak tulus ngedeketin lo, Vien! Dia itu bangsat! ” ujar Iqbal emosi, Vienna begitu shock mendengar perkataan Iqbal. Ia tak menyangka Iqbal akan segetol itu melarangnya berhubungan dengan Neeraf. Memang tau apa Iqbal soal Neeraf ? Dekat saja tidak. Dia juga tak tau kenapa Iqbal begitu tidak sukanya terhadap Neeraf. Sepengetahuannya Iqbal tidak pernah terlibat pertengkaran dengan siapapun, paling tukang parkir yang suka malak di pasar. Dan tak mungkin Neeraf sejahat yang Iqbal pikir. Banyak orang disekitar Vienna mengenal Neeraf sebagai sosok yang memiliki kepribadian baik, dan sama sekali tidak bangsat.

            Setibanya diparkiran, Vienna langsung melesat keluar dari mobil Iqbal tanpa niatan membalas semua perkataannya tentang Neeraf. Terlalu sakit mendengar sahabatnya sendiri mengolok-olok seseorang yang dipujuanya tanpa bukti jelas. “Viennaa! Tunggu!” teriak Iqbal, si empunya nama mempercepat langkahnya menjauhi Iqbal. Percuma berdebat dengannya, menguras emosi dan akhirnya ia tidak akan mendapatkan pembenaran dari Iqbal. “Vien, lo harus dengerin perkataan gue. Dia itu bejat, Vien!” ujar Iqbal tersengal-sengal setelah mengejar Vienna.

PLAAK

            Satu tamparan tepat di pipi Iqbal, Vienna yang terlanjur emosi kehilangan kendali. “Tau apa lo soal dia? Kalo lo emang gak suka sama dia, jangan seret-seret gue! Gue bukan anak kecil lagi, gue tau apa yang bakal gue lakuin. Gue ilang mood gara-gara lo, Bal! makasih!” ujar Vienna penuh emosi. “Terserah lo Vien, gue cuman gamau lo nyesel terus sedih!” teriak Iqbal ke arah Vienna yang telah jauh berjalan meninggalkannya. Orang-orang disekitar mereka keheranan bukan main, sahabat paling lengket se- SMA Moestika bertengkar hebat didepan umum. Persahabatan Vienna-Iqbal sudah lama terjalin dan pertangkaran sangat jarang terjadi dianatara mereka. Dan sekarang ketika mereka sudah sama-sama dewasa pertengkaran terjadi dan karena hal sepele called love. Oke, mungkin dalam kasus ini cinta jadi hal yang sensitive untuk Vienna.

                                                                                    ***

            Acara malam itu berjalan dengan sukses. Bertempat di hotel bintang 5 milik salah satu siswa SMA Moestika, Ballroom hotel dihiasi dengan kain-kain besar dengan warna emas dan coklat tua mendominasi, alunan musik klasik sepanjang acara dan susunan gelas Champagne ditengah- tengah ruangan sangat mendukung tema malam ini “Solid and Glamour”. Teman-teman Vienna begitu bahagia diacara malam ini, tapi tidak dengannya. Moodnya yang ada dilevel sembilan puluh sembilan persen turun drastis ke titik terendahnya akibat sikap Iqbal. Sejak datang tadi ia murung dan duduk sendiri sambil menikmati cocktail yang disajikan waiters, sosok Neeraf yang ditunggu-tunggunya tak kunjung kelihatan batang hidungnya. Ia mencoba berpikir positif, mungkin ada masalah mendadak yang melibatkan perusahaan keluarganya sehingga dia harus ikut terjun, well.. mungkin saja itu terjadikan, karena di pernikahan Kak Aaron sepupunya saja  Kak Aaron masih sempat mengurusi  usahanya di London, jadi wajar kalau Neeraf mengalami hal itu juga yang notabene anak pemilik hotel tempat acara mereka sekarang dilangsungkan.

            Vienna memutuskan untuk berkeliling, dan keluar dari hiruk-pikuk Ballroom. Puncak acara dimulai pukul 08.00 dan ini masih jam tujuh tepat, mungkin balkon hotel tempat yang bagus. Tak jauh dari Ballroom tersebut terdapat balkon yang cukup besar, sepertinya hotel ini di desain memiliki banyak balkon untuk menikmati pemandangan pantai di sisi barat. Vienna melanjutkan perjalanannya ke balkon tersebut dan makin dekat ia melihat siluet seorang cowok yang begitu familiar baginya. Ia mendekat kearah cowok tersebut dan ternyata dugaannya benar, cowok di balkon itu adalah Neeraf. “Hei, kok sendirian?” sapa Vienna, ia cukup canggung dengan keadaanya yang hanya berdua dengan Neeraf di balkon. Ditemani cahaya bulan yang cukup terang dan angin pantai berhembus lembut menerpa wajah mereka, how romantic isn’t?

            Neeraf melemparkan senyum andalannya kearah Vienna, “sebenarnya gue lagi nunggu seseorang, Vien. Lo kok sendirian juga?” tanya Neeraf. “Gue bosen di Ballroom, terlalu berisik dan gue kurang suka..by the way lo nunggu siapa?” tanya Vienna penasaran, jujur ia berharap orang yang di tunggu Neeraf adalah dirinya. “hm.. bentar lagi dia datang, lo bakal tau orangnya,” tukas Neeraf. Vienna lemas mendengar bukan dirinya yang ditunggu Neeraf, tapi ia tak boleh patah semangat. Kesempatan berdua dengan Neeraf seperti ini harus dimanfaatkan sebelum terlambat dan menyesal. “Oia, gue boleh ngomong sesuatu sama lo, Raf?” tanya Vienna hati-hati. “Boleh, lo mau ngomong apa? Bilang aja” ujar Neeraf.

            “Gue.. actually  I like you, Neeraf!” ucap Vienna cepat. Jantungnya  sudah bergemuruh tak karuan dan bisa dipastikan pasti pipinya memerah sekarang. Neeraf cukup terkejut dengan pernyataan Vienna, tapi pernyataannya tadi justru membuat Neeraf mempunyai ide yang menguntungkan baginya. “Lo serius, Vien? Sejak kapan?” ucap Neeraf memancing, “sebenernya sejak kita gabung jadi anggota paskib, ditambah kita sering ngobrol dan ngerjain tugas bareng dan banyak hal lain yang sering kita lakuin sama-sama,” Ucap Vienna apa adanya, Neeraf melancarkan aksinya setelah mendengar pernyataan Vienna barusan. Sepertinya kepolosan gadis didepannya ini bisa jadi ‘mainan’nya malam ini. Tangan Neeraf berhasil menggenggam tangan Vienna dan menariknya mendekat kearahnya, Vienna kaku dan terdiam. Apa yang akan dilakukan Neeraf padanya ? Apakah seperti di drama-drama Korea yang sering di tonton Kak Nara? Dimana si pria akan mencium mesra kekasihnya sebagai jawaban pernyataan cinta, tapi inikan kehidupan nyata yang gak mungkin cowok ngelakuin hal itu dengan gampang, dan kenapa.. wajah Neeraf terlihat aneh dan..beringas?

            Refleks Vienna menjauhkan tubuh Neeraf dari dirinya, “Apa yang mau lo lakuin, Raf? Lo belum jawab pernyataan gue tadi,” ujar Vienna. “I wana kiss you, aku mau buktiin kamu beneran suka atau enggak sama aku,” ujar Neeraf enteng. “What? haruskah dengan cara seperti itu?” ucap Vienna, Ia tak habis pikir seorang Neeraf akan melakukan itu. “Come on, Vienna! Kissing itu udah biasa. Gak usah munafiklah, lo suka sama gue dan gak ada salahnya lo ngelakuin itu sama gue,” ucap Neeraf tanpa beban, “hei, gue emang suka sama lo tapi gue gak semurahan itu. Kissing itu biasa lo bilang? Mungkin buat cowok pervert kayak lo itu udah biasa, gue baru tau asli lo kayak gini, Raf. Udah berapa banyak korban kebiasaan kissing lo itu?” jawab Vienna emosi, “Halaah, lo ini polos atau sok suci sih ? Asal lo tau Vien, gue punya banyak uang dan kuasa untuk ngelakuin semua hal yang gue mau, termasuk hal sepele kayak kissing ataupun yang lebih dari itu. And you have a mirror at home ? Look your self again? Lo kira setelah lo nyatain perasaan lo ke gue, gue bakal jawab ‘yes me too’ oh god! It’s actually not you know?”ujar Neeraf kasar. “Angan-angan lo ketinggian Vien, wake up darl! Jangan berharap lebih, seharusnya kamu tau berhadapan sama siapa. Selamat malam Vienna Ilisha.”

Neeraf berlalu dari situ sembari menepuk kecil pipi Vienna dan menyambut sosok gadis yang menghampirinya, Selina. Kemarahan Vienna mencapai ubun-ubun, ia ingin sekali memaki semua perkataan Neeraf tadi, tapi ia malah tak sanggup dan menangis sendirian di balkon. Sesakit ini ternyata ditolak, tapi ia bersyukur Tuhan dengan jelas menampakkan keburukan Neeraf didepan matanya dan ia bisa berpikir jernih di tengah-tengah keadaan genting tadi. Ia sadar dan merasa bersalah pada Iqbal, ternyata sahabatnya itu benar-benar sayang padanya dan ingin melindunginya. Benar kata Iqbal, kalau Neeraf itu bejat. Ia harus segera minta maaf pada Iqbal.

            Vienna langsung menyeka air matanya dan merelekskan dirinya, jam tangan model charm bracelet di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 08.00. Waktunya kembali ke Ballroom, “Gue Vienna Ilisha .Gue kuat dan gak murahan!” batin Vienna. Berniat melangkahkan kakinya ke Ballroom, langkah Vienna terhenti karena seseorang berdiri menghalanginya. Ia menatap wajah orang itu dan senyum tenang khas seorang Iqbal yang hadir. “Udah tau disini dingin, malah kesini. Ntar kalo pulang-pulang sakit pasti mama lo marahin gue,” ucap Iqbal menghibur Vienna, ia menyampirkan jasnya ketubuh Vienna yang kedinginan di balkon. Sebenarnya ia tau semua percakapan Vienna dan Neeraf tadi, ia sungguh lega Vienna bisa mengendalikan dirinya di tengah obsesinya terhadap Neeraf. “Lo bener, Bal. Semua yang lo bilang bener. Maafin gue ya..” ucap Vienna tulus dan memeluk sahabatnya itu. Iqbal tersenyum dan membalas pelukan sahabatnya itu, “Thank’s again, Iqbal Adhaya. Eh, langsung ke Ballroom yuk! Acaranya udah mulai, Bal!” Iqbal mengangguk setuju dan berjalan beriringan bersama Vienna.

DEG

Dia heran kenapa akhir-akhir ini jantungngnya sering  berdetak tak karuan jika dekat dengan Vienna. “What is this? Kenapa gue jadi gini sih? Gak mungkin kan gue jatuh cinta sama sahabat gue sendiri? Iqbal… you’re in trouble!” batinnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s