Istrimu Bukan Pembantu

For dear future husband…

So Which Blessings of Your Lord Will You Deny~?

green gardening time

Obrolan di suatu siang dengan seorang kawan via Messenger..

  • Me: “Udah berapa bulan dek hamilnya?”
  • Fulanah: “Masuk trimester 3 mbak..”
  • Me: “Wah udah berat banget tuh rasanya.. Mau ngapa-ngapain serba salah. Begah..”
  • Fulanah: “Banget mbak, udah susah kalo duduk nyuci atau angkat yang berat-berat. Kalo habis ngerjain kerjaan rumah rasanya capek banget.. Nggak ada tenaga..”
  • Me: “Semua dikerjain sendiri? Emang suami nggak bantu-bantu dek?”
  • Fulanah: “Iya mbak, nggak ada pembantu. Suami mana mau bantuin aku beresin rumah. Pantang banget buat dia mbak. Aib..”
  • Me: “Lho, kenapa? Rasulullaah aja mau lho bantuin kerjaan istri. Kasian kamu dek, hamil besar masih harus kerja berat.. ”
  • Fulanah: “Entahlah mbak. Dari awal nikah emang udah begitu.. Ya mau gimana lagi..”

Saya menghela nafas panjang. Masih ada ya suami yang menganggap pekerjaan rumah adalah wilayah otoritas istri. Bahkan ketika sang istri sedang mengandung pun tak pernah mau…

View original post 1,251 more words

Advertisements

Rain and You

PicsArt_1419913858397

Di sore saat hujan turun, kami kembali bertemu. Cuaca yang sangat ku suka. Cuaca yang membuat aku sering mengingatnya.
Dia masih tetap dengan rambut cepak hitamnya seperti tiga tahun lalu. Ia tidak memakai baju dinasnya–setelan jas dan sepatu pantofel–melainkan sebuah jaket.
Jaket yang ia gunakan juga masih sama–hitam dan terdapat kantung di depannya–dengan topi snapback yang ia putar petnya ke belakang. Kaca mata hitam dengan frame besar membingkai wajahnya dengan sangat baik. Tampan.
Kami masih diam dalam hening setelah sekitar lima belas menit berdiri di koridor menghadap lapangan basket sekolah kami. Dengan tetesan air hujan yang turun sebagai objek yang kami nikmati. “Bagaimana kabar Ibu mu? Beliau sehat?” ujar ku membuka.
“Syukurnya sudah, ibu sudah sembuh. Lega sekali rasanya.” Senyum manis itu terpajang lagi diwajahnya. Beberapa waktu lalu keluarganya sedang terlibat sebuah masalah dan ia cukup kalut, kini ia tampak lebih baik. Bagaimana aku tahu? Itu bukan persoalan.
Mungkin terdengar aneh ketika aku menanyakan ibunya lebih dahulu ketimbang dirinya sendiri. Tapi aku tahu, ketika keluarganya baik maka ia akan begitu.
“Kenapa belum pulang?” ia bertanya sambil melepas kaca mata hitam yang sedari tadi ia kenakan, dengan wajah kami masih memandangi tetesan air hujan.
“Masih hujan,–”
.
.
“–dan karena kau.” Jawabku jujur.
Ia tersenyum. Manis seperti biasa.
Tak ada kalimatnya setelahnya, hanya kini tangannya kirinya meraih tanganku dan memasukkannya kedalam saku jaketnya. Menyalurkan hangat ditengah hujan ini begitu juga hangat hatinya.

– hay!! Mungkin ini cerita yang cheesy sekali. Tapi tak apalah, mengeluarkan ide yang sudah lama ada dikepala kan, tidak ada salhanya? Happy reading!!