Rain and You Vol. II

Annisafishy

Alunan instrumen Greensleves milik Mozzart membawa ingatan ku padanya. Lewat earphone yang terpasang di telingaku, alunan senar gitar terdengar merdu seiring terputarnya memori masa lalu. Aku menyesap cappucinnoku. Di luar hujan. Sungguh suasana yang tenang dan sangat ku suka.

Aku seorang Pluviophile―pecinta hujan. Kadang aku berdoa agar setiap sore turun hujan. Di saat hujan turun aku akan duduk di dekat jendela dan menikmati angin dingin yang menerpa wajahku. Di saat seperti itu juga aku selalu teringat dan memikirkan kalimat apa yang pertama kali di ucapkannya padaku ketika suatu saat nanti kami bertemu.

Apakah ‘apa kabar?’ atau ‘aku merindukan mu,’ ah―itu terlalu berlebihan. Yang paling besar kemungkinannya adalah kata ‘hai!’

 

Tapi aku ingin di saat kami bertemu, waktunya benar-benar tepat dan aku…bisa menatap matanya. Mata tajam yang membuat aku bergidik. Tapi aku suka mata itu. Sensasinya selalu berbeda.

Alunan musiknya sudah berganti. Tak terasa cappucinnoku tinggal seperempat gelas, tanpa ragu langsung ku teguk hingga tandas. Hujan di luar sudah reda. Menandakan aku bisa pulang.

Sebelum mencapai pintu langkah ku terhenti oleh sebuah pajangan yang bertuliskan sebuah quote, Wherever you are, no matter how far, i promise that I won’t give up on you”.

Ya, aku masih sabar menunggu pertemuan kita suatu saat nanti.

I won’t give up on you.

Advertisements