From Earl Grey to Americano

Cup of Coffee facebook timeline cover 849 X 312 Uncategorized,FEATURED,Cup,Coffee,tasse,kaffee,bohnen,beans“Kau pernah merasa ingin menghilang dari dunia ini? Um..simplenya mati,”

By Annisafishy

“Kau mau teh atau―” ucap Chanyeol menyambut kedatangan Hana sore ini.

“Aku ingin Earl grey!” sahut Hana cepat. Chanyeol mengangguk dan segera membuatkan secangkir Earl grey untuk Hana.

“Kau pernah merasa ingin menghilang dari dunia ini? Um..simplenya mati,” tanya Hana memulai. Chanyeol mengerutkan keningnya, namun masih tetap fokus meracik Earl greynya. “Aku tiba-tiba ingin―” secangkir Earl grey kini tersaji di depan Hana memotong perkatannya.

“Kau ingin mati? Apa alasanmu?” tanya Chanyeol. Gadis itu masih menikmati tehnya, belum berniat menjawab pertanyaan laki-laki di depannya.

“Kau pernah bosan sebagai Barista? Setiap hari hanya meracik kopi atau teh disini, kau tidak bosan?” alih-alih menjawab pertanyaan Chanyeol, Hana malah bertanya yang lain.

Chanyeol menerka-nerka kemana sebenarnya arah pembicaraan Hana. Akhir-akhir ini Hana tampak kusut, “apa Kai main belakang lagi?” batinnya. Hampir seminggu ini sepulang dari kantor, Hana pasti mampir ke cafe milik Chanyeol. Entah memesan Black tea, Espresso, atau seperti hari ini ia memesan Earl grey. “Kau sebenarnya kenapa? Ceritalah, apa gunanya aku?” tawar Chanyeol.

“Kai..masalahnya Kai,” Hana menghela napas panjang, menandakan masalahnya kali ini cukup berat. “Dia menghamili seorang gadis SMA. Dan kini orang tuanya berencana menikahkan mereka dan menyuruh mereka pergi keluar negri.” Hana menyesap kembali Earl greynya, menghirup aroma yang diharapnya mampu menenangkan gejolak hatinya.

Chanyeol menggelengkan kepalanya, ia cukup bingung dengan masalah ini. Kai sudah hampir lima tahun berpacaran dengan Hana dan mereka seperti pasangan lainnya―putus lalu kembali lagi. Pertengkaran mereka biasanya dipicu oleh kebiasaan Kai yang suka main belakang, ntah dengan wanita sebayanya atau anak SMA seperti sekarang. Alasan Kai melakukannya adalah dia tidak mau merusak Hana, tapi dengan merusak wanita lain pikir Chanyeol. Hana cukup frustasi memiliki kekasih badboy tingkat olimpiade seperti itu. Ia pernah mau bersikap posesif terhadap Kai, tapi gagal. Ia tetap luluh.

Ditahun ketiga mereka berpacaran Hana pernah mengajak Kai menikah―agar penyakit badboy Kai terobati. Tapi Kai menolak dengan alasan dia belum siap. Tapi itulah sosok Hana, terlalu pemaaf. Chanyeol dan Catherine―sahabat Hana―sudah letih memberikan saran, nasihat, sampai paksaan untuk Hana agar putus dengan Kai. “Aku masih mencintainya.” alasan yang selalu Hana utarakan dan akan selalu membuat chanyeol dan Catherine akan memutar bola mata mereka―sebal.

“Jadi apa yang akan kau lakukan? Jelas-jelas dia sudah mengkhianatimu! Sadarlah Hana!” Chanyeol kini menatapnya tajam.

“Aku masih―”

“Masih mencintainya?” potong Chanyeol. “Kau mencintainya sementara dia tidak. Dia tega berbuat hina seperti itu walaupun kau kekasihnya.” Hana tertunduk. Ia membuka kenangannya dengan Kai selama lima tahun belakangan ini, lebih banyak sakit dan kekecewaan. Kali ini ia memandang posisinya, sebagai kekasih Kai. Beberapa tahun terakhir ini ia lebih banyak menangis, Hana sadar akan hal itu. Sekarang melihat Kai rasanya begitu sakit. Tidak seperti dulu yang selalu bisa Hana tahan.

“Hana, you are so precious!” suara bass Chanyeol menyadarkan Hana. “Precious? Untuk siapa kalau tidak ada Kai?” batin Hana.

You precious for your life, your family, me and Catherine. Life not just Kai! You can get better,” ujar Chanyeol meyakinkan. Hana berjengat, ia terkejut mendengar Chanyeol menjawab perkataan hatinya. “Putuslah dengan Kai.” bujuk Chanyeol.

“Tanpa kau suruh pun aku sudah putus dengannya. Sekarang aku butuh ketenangan,” Hana menghabiskan Earl greynya yang tinggal seperempat dalam sekali teguk.

“Bagaimana kalau liburan? Musim panas hampir tiba,” saran Chanyeol, Hana tampak berpikir. Ia ingin ke tempat yang tidak ada kaitannya dengan Kai. “Bagaimana kalau kita ke Lombok? Indonesia? Atau ke Maldives? Tempat yang cocok untuk kau dan Catherine yang shopaholic.”

Destinasi yang cukup bagus pikir Hana, “baiklah aku kira kedua tempat itu bisa kita datangi, ongkos dan penginapan aku yang traktir.” Hana tersenyum simpul.

“Akhirnya kau bangun, Hana!” tawa Chanyeol membahana seantero cafe sore itu. Chanyeol sudah lama menanti-nanti penyakit royal Hana datang, dan liburan kali ini akan menyenangkan tampaknya. Hana mengambil smartphonenya, membuka kontak telepon dan menuliskan pesan untuk laki-laki itu.

To: Kai

 

Selamat tinggal, Kai. Aku harap kau bahagia bersama bocah itu. Terimakasih sudah membuat lima tahunku penuh dengan kesedihan dan kekecewaan. Selamat menjadi ayah! Semoga kau bahagia.

SEND

Seringaian kini tampak diwajah Hana, “waw, sudah lama aku tidak melihat seringaian itu. Apa ada yang menarik?” ucap Chanyeol.

“Buatkan aku Americano, aku ingin merasakan pahit untuk terakhir kali.” Hana tersenyum misterius.

Rain and You Vol. II

Annisafishy

Alunan instrumen Greensleves milik Mozzart membawa ingatan ku padanya. Lewat earphone yang terpasang di telingaku, alunan senar gitar terdengar merdu seiring terputarnya memori masa lalu. Aku menyesap cappucinnoku. Di luar hujan. Sungguh suasana yang tenang dan sangat ku suka.

Aku seorang Pluviophile―pecinta hujan. Kadang aku berdoa agar setiap sore turun hujan. Di saat hujan turun aku akan duduk di dekat jendela dan menikmati angin dingin yang menerpa wajahku. Di saat seperti itu juga aku selalu teringat dan memikirkan kalimat apa yang pertama kali di ucapkannya padaku ketika suatu saat nanti kami bertemu.

Apakah ‘apa kabar?’ atau ‘aku merindukan mu,’ ah―itu terlalu berlebihan. Yang paling besar kemungkinannya adalah kata ‘hai!’

 

Tapi aku ingin di saat kami bertemu, waktunya benar-benar tepat dan aku…bisa menatap matanya. Mata tajam yang membuat aku bergidik. Tapi aku suka mata itu. Sensasinya selalu berbeda.

Alunan musiknya sudah berganti. Tak terasa cappucinnoku tinggal seperempat gelas, tanpa ragu langsung ku teguk hingga tandas. Hujan di luar sudah reda. Menandakan aku bisa pulang.

Sebelum mencapai pintu langkah ku terhenti oleh sebuah pajangan yang bertuliskan sebuah quote, Wherever you are, no matter how far, i promise that I won’t give up on you”.

Ya, aku masih sabar menunggu pertemuan kita suatu saat nanti.

I won’t give up on you.

Istrimu Bukan Pembantu

For dear future husband…

So Which Blessings of Your Lord Will You Deny~?

green gardening time

Obrolan di suatu siang dengan seorang kawan via Messenger..

  • Me: “Udah berapa bulan dek hamilnya?”
  • Fulanah: “Masuk trimester 3 mbak..”
  • Me: “Wah udah berat banget tuh rasanya.. Mau ngapa-ngapain serba salah. Begah..”
  • Fulanah: “Banget mbak, udah susah kalo duduk nyuci atau angkat yang berat-berat. Kalo habis ngerjain kerjaan rumah rasanya capek banget.. Nggak ada tenaga..”
  • Me: “Semua dikerjain sendiri? Emang suami nggak bantu-bantu dek?”
  • Fulanah: “Iya mbak, nggak ada pembantu. Suami mana mau bantuin aku beresin rumah. Pantang banget buat dia mbak. Aib..”
  • Me: “Lho, kenapa? Rasulullaah aja mau lho bantuin kerjaan istri. Kasian kamu dek, hamil besar masih harus kerja berat.. ”
  • Fulanah: “Entahlah mbak. Dari awal nikah emang udah begitu.. Ya mau gimana lagi..”

Saya menghela nafas panjang. Masih ada ya suami yang menganggap pekerjaan rumah adalah wilayah otoritas istri. Bahkan ketika sang istri sedang mengandung pun tak pernah mau…

View original post 1,251 more words

Rain and You

PicsArt_1419913858397

Di sore saat hujan turun, kami kembali bertemu. Cuaca yang sangat ku suka. Cuaca yang membuat aku sering mengingatnya.
Dia masih tetap dengan rambut cepak hitamnya seperti tiga tahun lalu. Ia tidak memakai baju dinasnya–setelan jas dan sepatu pantofel–melainkan sebuah jaket.
Jaket yang ia gunakan juga masih sama–hitam dan terdapat kantung di depannya–dengan topi snapback yang ia putar petnya ke belakang. Kaca mata hitam dengan frame besar membingkai wajahnya dengan sangat baik. Tampan.
Kami masih diam dalam hening setelah sekitar lima belas menit berdiri di koridor menghadap lapangan basket sekolah kami. Dengan tetesan air hujan yang turun sebagai objek yang kami nikmati. “Bagaimana kabar Ibu mu? Beliau sehat?” ujar ku membuka.
“Syukurnya sudah, ibu sudah sembuh. Lega sekali rasanya.” Senyum manis itu terpajang lagi diwajahnya. Beberapa waktu lalu keluarganya sedang terlibat sebuah masalah dan ia cukup kalut, kini ia tampak lebih baik. Bagaimana aku tahu? Itu bukan persoalan.
Mungkin terdengar aneh ketika aku menanyakan ibunya lebih dahulu ketimbang dirinya sendiri. Tapi aku tahu, ketika keluarganya baik maka ia akan begitu.
“Kenapa belum pulang?” ia bertanya sambil melepas kaca mata hitam yang sedari tadi ia kenakan, dengan wajah kami masih memandangi tetesan air hujan.
“Masih hujan,–”
.
.
“–dan karena kau.” Jawabku jujur.
Ia tersenyum. Manis seperti biasa.
Tak ada kalimatnya setelahnya, hanya kini tangannya kirinya meraih tanganku dan memasukkannya kedalam saku jaketnya. Menyalurkan hangat ditengah hujan ini begitu juga hangat hatinya.

– hay!! Mungkin ini cerita yang cheesy sekali. Tapi tak apalah, mengeluarkan ide yang sudah lama ada dikepala kan, tidak ada salhanya? Happy reading!!

Father…

Papa, Ayah, Bapak, Abah, Abi, Papi dan sebutan lain untuk seorang pria yang kita kenal pertama kali dalam hidup kita.

Aku memanggilnya Papa.

Aku sangat bersyukur masih bisa merasakan bagaimana memiliki seorang Ayah. Beliau memiliki andil yang besar dalam hidupku. Pelindung, penasihat, pembimbing, panutan, dan banyak lagi hal tauladan yang kudapatkan darinya. Pria yang kocak sekaligus tegas. Keras untuk melindungi miliknya dan lembut pada apa yang disayangnya.
Seorang teman pernah berkata, “aku sayang sekali pada ibuku. Tapi, ayahku tidak.”
Aku tertegun mendengarnya, seburuk apakah ayahnya sampai ia bisa membedakan rasa sayang untuk orang tuanya?

Mungkin sebagian dari kita pernah diberi pertanyaan seperti ini, “lebih sayang mama atau papa?” Pasti ada yang menjawab mama atau papa, namun kalau pertanyaan itu tertuju untukku aku akan menjawab keduanya. Sulit bagiku untuk memilih mana yang lebih kusayangi, karena aku menyayangi keduanya.

Mungkin aku cocok disebut ‘daddy’s little girl’, aku menyadari hal itu sendiri. Hampir segala hal dalam hidupku, papa selalu ikut didalamnya. Ntah itu dalam hal pendidikan maupun hobiku. Aku juga masih sering diciumi olehnya pada saat tertentu–papa bukan orang yang malu menunjukan kasih sayangnya. Aku bisa bercerita banyak hal bersamanya, wawasannya luas. Hal kesukaan kami adalah kopi. Banyak kesamaan yang kumiliki dengan papa.

Banyak orang menganggap ayahku menakutkan. Ia bukan manakutkan, ia hanya tak suka banyak basa-basi. Kau harus mengenalnya dengan baik dan baru bisa menilainya. Kau akan terpingkal-pingkal ketika ia bergurau, namun kau juga akan menitikan air mata ketika ia mengurai kalimatnya dalam puisi ataupun kalimat nasihatnya.

Aku sangat bangga padanya.

Pria baik hati dan bertuah. Penyayang dan romantis. Tegas dan bijaksana. Humoris dan kreatif. Dia ayahku. Dia papaku.

Aku berdoa, Allah memberikan ku pendamping hidup yang memiliki pribadi seperti ayahku. Yang mampu bertahan untuk keluarganya, setia, dan inshaAllah membawa kami ke Jannah. Aamiin.

See you on the next post!

Count down the days for their last day on kitchen! This guys one of my reason still survive on my job training! Gonna miss them so much😘😢😥 – with agil , ika , and devi

View on Path